Jumat, Maret 21, 2008

Heboh Ayat-ayat Cinta...

Sebenernya udah lama pengen nulis tentang ini, tapi karena belom liat filmnya blom bisa komentar apa-apa, nah sekarang karena aku dah liat filmnya, baru bisa komen..

Aku dah baca novelnya, udah lama malah, baca selembar demi selembar, kayak nggak mau lepas dari ceritanya, alhasil baca langsung selesai malam itu juga, nangis bo! Nah pas filmnya dibuat, aku rada-rada pesimis gimana hasilnya, toh udah banyak daftar novel yang difilmkan mengundang banyak komentar..

Sebagai orang yang menghargai karya film (hehe, bahasane), aku sih menanggapinya dengan senyum-senyum aja, coz aku setuju dengan Hanung Bramantyo, bahwa novel dan film itu adalah dua media yang berbeda, jadi nggak mungkin bisa sama, kalo orang lain berusaha mencerca, "wah filmnya beda banget, nggak mutu, gimana sih", aku sih cuma bilang, ini dua media yang berbeda, nggak usah komen, liat dulu, ee malah yang dibilangin marah, terserahlaaahhh… Aku rada menghargai, karena aku tahu gimana susahnya buat film, apalagi itu di luar negri, hasil baca blognya mas Hanung juga sihh, dia bisa lebih religius..

Pas abis liat AAC, kata danik adiknya teja bilang gini, "benernya kalo liat sendiri suasana sepi bisa nangis lo mbak, aku aja nangis",, tapi kayaknya aku salah pilih partner buat nonton, aku nonton ma teja yang notabene orang-yang-komen-banget-sama-novel-yang-difilmkan, dari awal ngliat sampe akhir ngliat ngomooonggg aja, hehe piss ja!!nggak papa juga ding, daripada ngliat aku nangis menderu-deru disana, nggak lucu kaaannn???

Setelah aku liat sendiri, kebanyakan orang kecewa karena, satu, dari awal udah bikin ilfil, kebanyakan orang yang kecewa karena udah baca novelnya, temenku ada apal halaman berapa adegannya apa.. Di novel, Maria jarang masuk ke fiatnya Fahri, tapi di awal udah langsung ditonjolkan kalo Maria sering maen ke fiatnya Fahri, gimana nggak ilfil?? Dua, karakter Aisha di novel sebagai wanita yang tahu bagaimana bergaul dalam koridor Islam, tapi di film, Aisha lebih 'ngotot' dalam berbicara, dan tidak menundukkan pandangan, sebagaimana di novel diceritakan.. Tiga, banyak adegan yang dihilangkan dan ditambahi, seperti fahri yang sakit tidak diceritakan, lalu Maria tertabrak oleh suruhan Bahadur, dan masih banyak lagi..

Mungkin di Indonesia, pernikahan tanpa pacaran masih dianggap suatu ketidakmungkinan, tapi aku bisa jadi saksi kalau itu bisa berhasil, kakakku juga nggak pake pacaran, bayangin aja, ibukku ketemu mbak iparku di saat resepsi, bukan pas akad nikah.. Nah di film Aisha bilang, "aku sudah sebulan menikah denganmu dan aku tidak tahu apa-apa tentangmu..", ada semacam kesan bahwa dia menyesal menikah dengan Fahri, padahal di novel nggak gitu kann??? Dan masih banyak lagi tambahan-tambahan ide dari Hanung Bramantyo, yang kata salahsatu temenku bilang, "ditambah-tambahi kayak film indonesia banget.."

Tapi, lepas dari itu semua, two thumbs up for Hanung Bramantyo, Bikin film sesuai agamamu!!itu kan pesan bundamu?? Semoga banyak lagi film-film religius seperti itu lagi, yang memberikan pesan moral, yang nggak cuma lewat adegan ciuman mesra, pergaulan bebas, kalo kata salah satu artis pemeran film yang ada pergaulan bebas, dia bilang gini, "film ini tu bawa pesan moral, ya emang kayak gini kehidupan, di luar mungkin lebih parah", Hehe.. Tapi nggak ada salahnya kan kalo kita nggak menambahi daftar pergaulan bebas..



See u….

Tidak ada komentar: